Anak adalah amanah, didiklah dengan sebaik-baiknya.

Oleh:

Ustadz Mulyadi Abu Imron حقظه الله

Pengasuh SMP-IT Al Huda Makassar

Sesungguhnya tidaklah kita akan pernah mampu menghitung banyak dan besarnya nikmat Allah  , diantara nikmat tersebut adalah adanya anak dan keturunan. Yang mana tdk semua orang diberi dan dikaruniakan kepadanya nikmat ini. Allah  berfirman:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثاً وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ  أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَاناً وَإِنَاثاً وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيماً إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. ﴾QS. Asy Syuro: 49-50﴿

Maka di antara doa para nabi  adalah meminta kepada Allah  agar dikarunia anak.

Allah  berfirman:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَا

Di sanalah Zakaria mendo`a kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do`a”. ﴾QS. Ali Imron: 38﴿

Allah  juga berfirman:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

 “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. ﴾QS. Ash Shaffat : 100﴿

Allah  juga berfirman:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاما

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. ﴾QS.Al Furqon: 74﴿

Anak dan keturunan sebagaimana nikmat yang lain, bahkan seluruh nikmat,  di sisi lain dia adalah amanah dan tanggung jawab yang harus diemban dan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan pemberinya. Karena setelah Allah  kitalah sebagai pelukis pertama bagi anak ini,  bagaimana model dan gayanya,  bagaimana akhlak dan perilakunya,  bagaimana keyakinan dan sikap hidupnya, bagaimana arah tujuan dan maksud hidupnya. Nabi  bersabda:

كلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ على الفطرة ، فَأبَوَاه يُهَوِّدَانِهِ أو يُنصرانه أَوْ يُمَجِّسَانِه

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrahnya (diatas islam) maka kemudian kedua ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.

Maka kitalah yang ditanya tentang perihal anak-anak kita.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وكلكم مَسْؤُوْلٌ عن رَئِيَّتِه

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya”

Maka menjadi kewajiban kita untuk mendidik dan mengarahkan seluruh anggota keluarga, Allah  berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. ﴾QS. At Tahrim Ayat 6﴿

Maka seluruh anggota keluarga wajib untuk kita didik ilmu agama, wajib untuk kita dakwahi dan kita ajak untuk taat kepada penciptanya. Istri,  anak,  orang tua,  kemenakan dan seluruh pertalian kerabat,  baik hubungan darah atau karena adanya hubungan pernikahan.  Allah  berfirman:

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. ﴾QS. Asy Syura: 214﴿

Allah  berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. ﴾QS.Thaahaa: 132﴿

Terutama yang harus menjadi perhatian serius kita adalah pendidikan anak-anak kita, merekalah tumpuan harapan kita dimasa datang,  pelanjut dan yang akan mengambil alih tongkat estafet kekhalifahan kita di muka,  dan sekaligus sebagai aset dan investasi kita ketika lembaran hidup telah ditutup. Merekalah yang kita harap merintih memohonkan ampunan bagi kita ketika mulut telah bisu tersumbat tanah, yang kita harapkan menyemai benih amal sholeh ketika tangan ini telah kaku tak berdaya.

Nabi  bersabda:

 إذا مات إبن آدم انقطع عمله الا من ثلاث : صدقة جارية ، علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له

” Jika telah meninggal anak adam,  terputuslah amalannya kecuali 3 hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya.

Maka pendidikan anak adalah hal sangat penting dan wajib untuk kita serius memperhatikannya. Apalagi dimasa keemasan mereka, nabi  bersabda:

مُرُوْا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين ، واضربوهم وهم ابناء عشر، وفرقوهم في المضاجع

” Ajarilah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah ketika berumur 10 tahun dan pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.

Ibnu Abbas  menceritakan:

كُنْتُ خَلْفَ النبي يَوْما ، فَقَال يا غُلام أُعَلِّمُكَ بِكَلِمَاتٍ ” إِحْفَظِ الله يَحْفَظْكَ”

“Suatu hari saya berada di belakang Nabi  Maka beliau bersabda: Wahai anak kecil saya akan ajari kamu ilmu beberapa kalimat, jagalah Allah niscaya Allah menjagamu.

Kita lihat disini semangat Nabi  didalam mendidik anak, digambarkan bahwa Ibnu Abbas  berada di belakang beliau kemudian dipanggil dan diajarkan ilmu. Ibnu Abbas  yang pada saat Nabi  wafat beliau baru berumur 15 – 16 tahun.

Ini menunjukkan bahwa ilmu sangat baik ditanamamkan di masa keemasan itu, yaitu di masa anak-anak dan remaja, masa di mana pikiran belum diceraiberaikan oleh berbagai tuntutan dan permasalahan, di mana langkah kaki belum diikat oleh beban-beban dan tanggung jawab, sebagaimana kata hikmah: belajar di masa muda bagai melukis di atas batu, belajar di masa tua bagai melukis di atas air.

Betapapun kita sadar dan sungguh-sungguh kita ingin belajar di masa tua, tetap saja kaki kita telah terbelenggu dan tidak mampu melangkah jauh. Pikiran kita tidak lagi mampu fokus karena telah dipenuhi berbagai permasalahan.

Oleh karena itu, jangan sampai kita mengulang langkah yang salah. Bukakanlah gerbang ilmu bagi anak-anak kita, beri anak kita peluang dan fasilitas untuk meraupnya, pilihkan tempat belajar yang tepat, aman dan kondusif.  Tentunya lebih mengutamakan ilmu agama tanpa mengabaikan ilmu-ilmu keduniaan agar bisa memaksimalkan fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka bumi.

Allahu Waliyuttaufiq

Anak adalah amanah, didiklah dengan sebaik-baiknya.