Menanamkan Aqidah Sejak Usia Dini

 

Ibnu Abbas رضي الله عنه  meriwayatkan:

Suatu hari saya berada  di belakang Nabi صلى الله عليه وسلم    lalu beliau bersabda wahai anak kecil saya akan ajari kamu ilmu beberapa kalimat.

Ibnu Abbas masih berusia 15 – 16 tahun ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم  wafat.  Ini menunjukkan bahwa beliau diajari ilmu ini sebelum menginjak masa dewasa, hal ini mengajari kita tentang bagaimana perhatian Rasulullah صلى الله عليه وسلم   dalam menanamkan ilmu sejak dini. Apalagi digambarkan bahwa Ibnu Abbas berada di belakang namun kemudian dipanggil dan diajari.

Sebagai gambaran semangat beliau dalam mengajarkan ilmu, di sini beliau tidak menanti pelajar datang bersimpuh di depan beliau dan bertanya, sebagaimana adab Jibril عليه السلام  ketika mencontohkan kepada para sahabat bagaimana etika menuntut ilmu kepada sang guru. Namun karena perhatian beliau dan semangat beliau dalam mendidik,  penawaran ilmu itu datang dari sang guru, yang mungkin pelajar saat itu tidak terlintas dalam benaknya akan ilmu dan pelajaran yang akan di berikan. Seperti halnya saat Rasulullah  صلى الله عليه وسلم membonceng Muadz bin Jabal kemudian beliau menawarkan ilmu dengan melontarkan pertanyaan.

Jika kita lihat dari kejadian di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa guru menawarkan ilmu ketika :

Pertama, masa penanaman ilmu itu sangat baik ( moment-nya tepat)

Kedua,  ilmu itu sendiri adalah perkara yang sangat penting bagi orang yang akan diajar.

Masa kecil adalah moment yang paling baik dan sangat tepat untuk ditanamkan ilmu, apalagi ketika ilmu yang diajarkan adalah sangat penting. Mari kita lihat apa yang beliau ajarkan selanjutnya:

إحْفَظِ الله يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu”

Kata para ulama bahwa ada kaedah:

اَلْجَزَاءُ مِنْه جِنْسِ الْعَمَلِ

“Balasan sesuai amalan”

Seperti firman Allah عز وجل :

 فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرُكُمْ

“Ingatlah Aku niscaya Aku ingat kamu”

أَوْفُوْا بِعَهْدِيْ أُوْفِ بِعَهْدِكُم

“Tunaikan perjanjianmu kepadaKu, Aku penuhi janjiKu kepadamu”

إِنْ تَنْصُرُوا الله يَنْصُرْكُمْ

“Jika kalian tolong Allah,  Allah tolong kalian.”

 Ketika kita ingin dijaga oleh Allah عز وجل maka kita harus menjaga Allah عز وجل sebagaimana sabda Nabi di atas. Karena balasan sesuai amalan.

Disini timbul pertanyaan, apakah Allah عز وجل butuh penjagaan kita?  Padahal Dialah penguasa langit dan bumi,  pemilik arsy yang agung,  apakah kita dengan segala keterbatasan dan ketidakberdayaan mampu melindungi Allah عز وجل?

Jawabannya tentu tidak. Allah عز وجل berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاء إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ ﴿١٥﴾

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. “ (QS Faatir: 15)

Makna menjaga Allah kata ulama yakni:

إِحْفَظْ حُدُودَه وَحُقُوْقَه وَأَواَمِرَهُ وَنَوَاهِيَهُ

“Jaga batasan-batasanNya, jaga hak-hakNya, jaga perintah-perintahNya dan jaga larangan-laranganNya”

Tentunya tidaklah kita bisa menjaga semua itu kecuali kita mengetahui apa batasan-batasan, apa hak-hak, apa perintah-perintah dan apa larangan-larangan Allah عز وجل. Dan tidaklah bisa kita mengetahuinya kecuali dengan mempelajarinya.

Oleh karena itu orang yang paling menjaga Allah عز وجل adalah para ulama,  karena merekalah yang paling mengetahui hak-hak, batasan-batasan, perintah-perintah dan laranganNya.

إنما يخشى الله من عباده العلماء

“Hanyalah yang takut kepada Allah adalah para ulama”

Allah Menjaga Maslahat Dunia dan Agama Hambanya

Semakin sempurna penjagaan seseorang semakin sempurna pula penjagaan Allah عز وجل kepadanya.

Penjagaan Allah عز وجل ada 2 macam:

Pertama, penjagaan maslahat duniawi,

Masuk di dalamnya menjaga badan,  keluarga dan hartanya.

Hal ini bisa kita lihat bagaimana Allah عز وجل menjaga Nabi Ibrahim عليه السلام dari kobaran api

قُلْنَا يَا نَارُ قُوْنِيْ بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إبْرَاهِيْم

“Kami berfirman wahai api jadilah kamu dingin dan selamatkanlah Ibrahim”

Bagaimana Allah عز وجل selamatkan Nabi Musa عليه السلام dari tukang sihir dan bala tentaranya, bagaimana Allah عز وجل selamatkan Nabi Yunus عليه السلام dari perut ikan dan tentunya kisah semacam ini sangat banyak.

Kemudian bagaimana Allah عز وجل selamatkan keluarga Nabi Nuh عليه السلام dari banjir besar yang menenggelamkan bumi, bagaimana Allah عز وجل selamatkan keluarga Nabi Ibrahim عليه السلام di padang pasir yang tandus, bagaimana Allah عز وجل menjaga harta hamba yang sholeh, dimana Allah عز وجل berfirman:

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحاً فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْراً

 “Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. (QS Surah Al Kahfi: 82)

Dalam ayat ini Allah عز وجل menjaga harta warisan bagi kedua anak yatim tersebut dikarenakan kesholehan kedua orang tuanya. Jika Allah  عز وجل menjaga harta orang tua yang sholeh tersebut setelah matinya, maka penjagaan Allah عز وجل semasa hidupnya lebih mungkin lagi.

Kedua, penjagaan maslahat diniyah

Masuk dalam penjagaan ini, Allah عز وجل menjaga ketaatan hamba agar tidak bermaksiat meskipun hatinya telah condong untuk itu.  Seperti firman Allah عز وجل tentang yusuf عليه السلام

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَن رَّأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Surah Yusuf 24)

Allah عز وجل menjaga agama dan keyakinan hambanya dari penyimpangan dan kesesatan

مَنْ يَهْدِهِ الله فلا مُضِلَّ له

“Siapa yang Allah beri hidayah maka tidak seorang pun yang akan menyesatkannya”

Allah menjaga hamba dari fitnah-fitnah terutama Dajjal, huru-hara hari kiamat dan puncak penjagaan ini adalah ketika Allah menjaga hambaNya dari api neraka.

وإِنْ مِنْكُم الا وازدهار كان على ربك حتما مقضيا  ثم تنحي الذين اتقوا ومطر الظالمين  فيها جثيا

“Dan tidak seorang pun dari kalian kecuali akan mendatangi jahannam sebagai ketetapan pasti dari Robbmu. Kemudian kami selamatkan orang-orang yang bertaqwa dan biarkan orang-orang dholim di dalamnya dalam keadaan berlutut.”

Penjagaan jenis kedua ini tentu lebih utama dari pada penjagaan yang pertama. Terkadang pula untuk memberikan penjagaan kedua, Allah عز وجل melepaskan penjagaan pertama.

Seperti yang Allah firmankan :

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَاناً وَكُفْراً ﴿٨٠﴾ فَأَرَدْنَا أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْراً مِّنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْماً ﴿٨١﴾

“Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu’min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS. Surah Al Kahfi: 80 -81)

Dalam ayat diatas untuk menjaga keimanan kedua orang tuanya,  maka Allah عز وجل membiarkan pemuda yang dikhawatirkan menyeret mereka kepada kekafiran. Dalam artian Allah عز وجل tidak menjaga anaknya dengan hikmah agar terjaga keimanan orangtuanya.

Demikian pula ketika Allah عز وجل menimpakan musibah kepada hamba pada badan, keluarga dan hartanya dalam rangka mengembalikan mereka ke jalan yang benar.

Allah عز وجل berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴿٤١﴾

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum: 41)

Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم  melanjutkan pengajarannya kepada Ibnu Abbas,

 إحفظ الله تجده تجاهك

“Jagalah Allah niscaya engkau mendapatiNya di hadapanmu”

Hal ini semakna dengan apa yang diriwatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه

Nabi صلى الله عليه وسلم   bersabda:

قال الله تعالى: مَنْ عادى لي وَلِيًّا فقد آذنته با لحرب.  وما تقرب إلي عبد بشيء احب اليه من مافترضته عليه.  ولا يزال عبد يتقرب الي بالمراقبة حتى أحبه. فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويد التي يبطش بها ورجاله التي يمشي بها ولئن سألني لأعتطينه ولئن استعاذني لأعيذنه

Allahعز وجل  berfirman dalam sebuah hadits :

“Siapa yang memusuhi waliku maka sungguh Aku permaklumkan perang baginya, dan tidaklah hambaku mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang Aku lebih cintai daripada perkara yang telah Aku wajibkan kepadanya, senantiasa hambaku mendekatkan diri kepadaKu dengan perkara sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia meminta pasti Aku beri. Jika dia berlindung pasti Aku lindungi.”

Ketika hamba telah menjaga Allah,  maka Allah di hadapannya menuntun pendengaran, penglihatan, perbuatan,  perkataan,  arah langkah kakinya bahkan kecenderungan hatinya kepada hal-hal yang berfaedah dunia akhirat,  dan menghindari hal-hal yang membawa mudhorat dunia akhirat.

Allah عز وجل  berfirman:

ولكن الله حبب اليكم الإيمان ودينه في قلوبكم وكره اليكم الكفر والفسوق والعصيان أولئك هم الراشدون

“Akan tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikannya indah di hati kalian,  dan menjadikan kalian benci terhadap kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, merekalah orang-orang yang telah dituntun. (QS. Al Hujuraat: 7)

Nantikan kelanjutan pengajaran Nabi صلى الله عليه وسلم    kepada sahabat kecil Ibnu Abbas رضي الله عنهما  pada edisi berikutnya..

Insyaa Allah.

Tanamkan Aqidah Yang Lurus Sejak Usia Dini